KADO TERINDAH


KADO TERINDAH
By: Nabilah Rahmah XI IPA 2

            Kedua tangan lembut menyambutku dengan hangatnya. Ketegaran dan kekuatan segenap raga dan jiwa berani ia pertaruhkan untukku, dengan sisa tenaganya ia sambut gembira kehadiranku.  Suara azan dan iqamah dikumandangkan ketelingaku dengan merdunya. Dekapan rasa sayang dan cinta menyelimuti tubuh kecilku. Tangisan dariku menyambut riang mereka dengan rekahan senyum lebar.
v   
Toktoktok....
“ Nak.. bangun... sudah subuh, ayo shalat nanti waktu subuhnya habis..” suara ibu dari balik pintu kamarku dengan lembutnya. Memang kadang-kadang aku masih dibangunkan untuk shalat subuh, maklum biasanya malam aku tidur telat. Tidur kemalaman bangun kesiangan.
“Iya bu.. sebentar..” kataku sambil mendudukan tubuhku yang masih setengah nyawa itu.
Ku buka pintu kamar dan langsung kebelakang mengambil air wudhu. Hhmm... begitu segarnya dan sisa nyawaku sudah terkumpul semua. Ku lanjutkan shalat di kamar dengan khusuknya.
Ibu masih memasak di dapur dan ibu menyuruhku membangunkan adikku yang masih terlelap. Kemudian pergi mandi. Makanan sudah siap dimeja dan saatnya kami santap.
Hari ini ada ulangan jadi aku bergegas kesekolah.Aku mengambil tas dikamar dan memasang bando dirambutku.  Aku pamit dan meyalami ibu lalu segera pergi dengan sepedaku.
Oh ya.. aku belum memperkenalkan diri. Namaku Karra Nurrahmah umurku 14 tahun sedangkan adikku namanya Muhammad Hafiz umurnya 8 tahun.
v   
             Apakah aku harus berubah, apakah ini pilihan yang tepat, apakah aku siap. Pikiran itu terus teringiang di kepalaku.
“Karra...Karra..” suara seseorang lembut memanggilku, tapi aku masih berada dalam hayal pikiranku.
“Karra.. kau baik-baik saja” seketika lamunanku pecah. Aku menengok, ternyata itu Fatma teman sekelasku. Orangnya baik dan kerudung yang menutupinya menambah kecantikan dan keanggunannya.
“Fatma..., ada apa?” tanyaku kemudian duduk di bangku taman sekolah.
“Kamu sudah memikirkan apa yang akan kamu berikan kepada ibumu.” katanya sembari duduk disebelahku.
“Aku belum tahu, apa kamu ada ide.” tanyaku balik.
“Ehm.. apa ya... bagaimana kalau...” jawabannya terpotong oleh suara keras bel tanda masuk berbunyi.
“Apa tadi yang mau kau sampaikan?” kataku penasaran.
“Nanti aku sambung sehabis istirahat, jam pertamakan ulangan, ayo kita kekelas.” katanya sambil menarik tanganku menuju kelas.
Jam pelajaran pun terus berganti sampai akhirnya jam menunjukkkan pukul 10.00  waktunya istirahat. Aku bergegas menarik tangan Fatma dan membawanya kekantin sekolah.
Setelah mendapatkan tempat duduk dan memesan makanan, aku yang masih penasaran langsung melontarkan pertanyaan “Apa tadi yang ingin kamu katakan, apa kamu dapat ide, apa itu bagus, apa itu akan membuat ibuku senang, apa....”kataku dengan pertanyaan bertubi-tubi.
“Sabar Ra.. Alhamdulillah aku punya ide, kamu buat acara syukuran saja dan...., oh ya, apakah kamu sudah mantap melakukannya.” tanyanya balik.
“Semoga, ini pilihan terbaikku.” kataku sambil menyeruput es sirup yang ku pesan.
“Oh ya.. bagaimana kalau saat ulang tahun ibumu kamu kenakan saja apa yang sudah jadi kewajibanmu itu, pasti ibumu senang dan bangga.” katanya sambil tersenyum.
“Ide yang bagus, semoga ibu senang, terima kasih Fatma.” kataku dengan riangnya. “Sama-sama” balasnya.
v   
            Satu kayuhan, dua kayuhan, tidak terasa aku sudah sampai didepan rumah. Aku tatap sekitar terlihat ibu sedang membersihkan pekarangan rumah. Sinar mentari terik mengenai kulitnya yang sudah tua.
            “Assalamu’alaikum”
            “Wa’alaikumsalam”
            “Ibu, ada yang bisa Karra bantu” kataku sambil menyalami tangan ibu yang lembut.
            “Nanti saja, kamu makan dulu dengan adikmu, sehabis itu bantu ibu.” katanya. “Baik bu.. ibu jangan terlalu capek, nanti ibu sakit.” kataku yang dijawab anggukannya. Aku tidak mau ibu terlalu keras bekerja karena ibu punya riwayat penyakit jantung. Aku tidak ingin sakitnya kambuh lagi.
Ulang tahun ibu tinggal menghitung hari. Aku sudah mantap akan pilihanku, aku sayang ibuku. Ayahku sudah meninggal, saat aku berumur 8 tahun. Hanya ibu yang kami punya saat ini. Aku sangat menyayangi ibuku. Aku tidak ingin kehilangan ibu, kami belum siap kehilangan ibu.
            “Aahh.. apa yang aku pikirkan, jangan berpikir macam-macam, Nauzubillah bila terjadi apa-apa pada ibu”. pikirku dan melanjutkan menyapu dedaunan kering yang berubah warna menjadi coklat, apabila kau menyentuhnya daun itu akan pecah dan menjadi serpihan-serpihan kecil.
            Hari berganti hari, jam berganti jam, tak terasa hari yang dinanti tinggal 5 hari lagi. Seperti biasa pergi sekolah aku pamit dan menyalami tangan ibu.
            “Assalamu’alaikum”
           “Wa’alaikumsalam, semoga kamu menjadi anak baik, sholehah, beriman, pintar dan selamat dunia akhirat, Aamiin, hati-hati nak..” kata-katanya selalu terngiang dipikiranku dan itu memotivasiku, betapa sayang dan cintanya ibu kepada anaknya. Belaian tangan halus nan lembut menghangatkan jiwa. Wajah dan senyumnya mampu melenyapkan kesedihan di hati.
v   
            Trriing..trriing...
            Suara handphone di kantongku berdering keras, kulihat nama penelpon ternyata pamanku.
            “Assalamu’alaikum”
            “Wa’alaikumsalam, Karra.. ibumu masuk rumah sakit, kamu dan adikmu cepat kesini, bawa pakaian dan perlengkapan lainnya, ibumu dirawat dikamar Mawar no.12” katanya dengan nafas terengah-engah.
            Aku yang khawatir langsung keparkiran  sekolah lalu mengambil sepeda, dengan sekuat tenaga aku kayuh sepeda dengan cepat dan menjemput adik. Sesampainya di rumah sakit, aku bertanya pada suster untuk ditunjukkan kamar Mawar. Aku berjalan dikoridor rumah sakit yang terlihat sepi, aku bingung, aku takut,tapi aku harus kuat.
 Suster menunjukkan kamar Mawar no.12, aku pun mengetuk pintu dan membuka pintu sembari mengucapkan salam dengan tangan gemetar. Didalam aku melihat ibu terbaring lemah diranjang. Aku ingin menangis tapi aku harus kuat didepan adikku yang masih terdiam melihat ibu. Entah apa yang dia pikirkan tapi pasti ini sulit untuknya.
“Paman, apa ibu baik-baik saja, apa kata dokter tadi?” kataku dengan suara pelan.
“....., kamu yang sabar ya, doa kan semoga ibumu kembali sehat.” jawab paman dengan muka lemas. “ Ibumu terkena stroke”
Aku pun terkejut, tubuhku langsung lemas seketika, ku baringkan tubuhku dikursi, aku masih belum percaya, tapi aku harus yakin ini adalah ujian dari Allah, aku harus kuat demi ibu dan adikku.
Tak terasa sudah 2 hari ibu tak sadarkan diri. Dalam sholat aku terus berdo’a akan kesembuhan ibu. Aku selalu mengaji didekat ibu berharap dengan suaraku ibu terbangun. Titik demi titik air mataku menetes, akhirnya kututup  Al-Qur’an yang dihadiahkan ibu saat ulang tahunku, lalu ku bisikkan “ Aku sayang ibu, sangat sayang, ibu cepatlah bangun.” kupeluk erat ibu dan terus menangis.
Tangan hangat membelai halus rambutku, aku terkejut dan kulihat ibu sudah sadar. “Ibu...” tangisanku kali ini mulai mengeras dan pelukanku semakin erat, aku sangat senang. Keluarga yang melihat langsung memanggil dokter. Dokter pun memeriksa ibu , dan menyuruh kami keluar untuk diberitahu kondisi ibu.
 “ Kondisinya masih lemah tapi stabil, sepertinya karena stroke itu kakinya belum bisa digerakkan jadi perlu perawatan jalan agar bisa mengembalikan kondisinya semula.” kata dokter dan pergi meninggalkan kami.
Hari demi hari kulalui, kupengang erat tangan ibu yang belajar berjalan. Dengan tongkat di tangan kanan dan tangan kirinya kupegang, yang awalnya hanya berjalan dikamar sekarang sudah sampai ketaman rumah sakit. Walaupun ibu masih menggunakan kursi roda tapi senyumnya masih terlihat diwajahnya, ibu memang perempuan yang kuat.
v   
            Tak terasa besok ulang tahun ibu dan dokter memperbolehkan ibu pulang. Dokter hanya berpesan agar perawatan jalannya jangan dihentikan agar ibu bisa berjalan seperti semula. Kami sekeluarga berniat mengadakan syukuran dirumah atas kesembuhan ibu apalagi bertepatan dengan hari ulang tahunya.
            Keesokannya, kami mempersiapkan acara syukuran itu dan mengundang anak yatim. Alunan suara Qori yang membacakan ayat Al-Qur’an menghanyutkan jiwa. Acara pun berjalan lancar, acara terakhir kami membagikan makanan dan uang kepada anak yatim.
Ibu keluar kamar dengan masih menggunakan kursi roda yang didorong oleh tante dan adikku.
“Ibu ada satu kejutan lagi untuk ibu, ayo kita ketaman belakang.” kata adikku,  mereka pun menuju taman belakang rumah.
“Apa kejutannya?” kata ibu penasaran.
“Ibu tutup mata dulu..” kata adikku sambil memberi isyarat padaku.
Aku berdiri didepan ibu, jantungku berdegup kencang, aku tidak sabar bagaimana reaksi ibu. “1 2 3.... ibu buka mata ibu” kata kami serempak.
Perlahan ibu membuka matanya. “Karra...” ibu terkejut, matanya mulai berkaca-kaca.
“Ibu tidak apa-apa” kataku khawatir.
“Ibu senang sekali, ibu terharu, ini adalah kado terbaik yang ibu dapatkan, ibu sangat sayang kalian.” kata ibu dengan senyum lebar diwajahnya dan memeluk erat kami.
“Sekarang Karra sudah mantap menggunakan jilbab, ini semua berkat ibu yang selalu membimbing kami, menjaga dan menyayangi kami dengan setulus hati” kataku dengan senyum bahagia, pelukanku semakin erat.Senyumannya membuatku senang, membuat hati tenang, aku rindu akan senyum dan tawa ibu.
“Ibu ingin belajar berjalan lagi supaya ibu bisa kembali sehat dan merawat kalian berdua lagi” tangan ibu kupegang erat, kubantu ibu mendirikan tubuhnya.
Kami menyusuri setapak demi setapak jalan. Aku ingat tapi tidak terlalu persis, ibu dan ayah mengajariku berjalan untuk pertama kalinya, mereka begitu sabar.Tangan halus dan lembut mengiringi langkah demi langkah kaki kecilku dulu.

 Sampai saat ini, dihari ini, rasa sayang itu selalu ku ingat. Kupegang erat tangan ibu yang susah payah berjalan demi kebahagiaan kami, seperti dulu ibu dan ayah yang selalu menjaga kami. Walaupun cinta kasih orang tua tidak bisa terbalas oleh apapun, tapi aku berusaha untuk membahagiakannya. Tangan lembut mengiringi langkah demi langkah seperti waktu dulu. Aku sayang padamu ibu.