Sudah terkumpul berapa uangnya nak..?” Tanya ibu pada Nisa yang sedang menghitung uang tabungannya di kamarnya. “Eh, ibu.. ngagetin Nisa saja, lumayan… bu sekitar tujuh ratus ribu lagi aku sudah bisa membeli notebooknya,” kata nisa tersenyum dengan nada penuh semangat.
“ Bagus lah Nis. Kira-kira berapa
kali lagi tuh jualan gorengan sama es campurnya?” goda ibunya.
Sekarang
Nisa lagi mengumpulkan uang untuk membeli notebook, dia tidak ingin membebani
ke dua orang tuanya untuk membelikannya sebuah notebook.
Nisa
pun menjual gorengan dan es campurnya dengan gerobak kecil yang ia miliki di
persimpangan jalan yang tak jauh dari rumahnya.
“
empat bulan lagi sepertinya , Bu. Itupun juga ditambah dengan penjualan bross
yang kubuat di sela waktuku.”
“
empat bulan kemudian, Nisa berangkat ke toko elektronik komputer dengan uang
yang sudah terkumpul di dompetnya. Dengan pergi menggunakan angkot nisa pergi
ke pasar.
Ketika
sedang berjalan menuju toko komputer dengan penuh semangat karena sebentar lagi ia akan memiliki notebook yang
selama ini diimpikannya, toko itu sudah terlihat dari kejauhan Nisa berjalan.
Saat menuju toko itu Nisa dihampiri oleh seorang yang bukan penjahat dan
tampangnya tidak seperti perampok.
Dia
seorang perempuan setengah baya, pakaiannya sangat sederhana, lusuh, dan
compang-camping, wajahnya pucat.
“Nak….
Saya belum makan….” Kata ibu tua itu
dengan lirih
Nisa
terdiam sejenak, memandang wajah perempuan itu. “ Ayo kita ke warung, bu” kata
nisa akhirnya.
Di
warung Nisa memesankan ibu itu satu nasi dan teh manis hangat.
“
Ibu makan disini sendirian ya bu, saya ingin belanja lagi.”
“Iya,
terimakasih banyak ya nak, semoga Allah membalas kebaikan mu” mata ibu tua itu
berkaca-kaca dan Nisa hanya tersenyum.
“Berapa
bu?” Tanya Nisa kepada pemilik warung.
Akhirnya,
tibalah Nisa di toko komputer. Nisa beruntung notebook impiannya masih diual di
toko itu.
“Ada
yang bisa kami bantu, De?” sapa penjual toko kepada Nisa
“
Iya mas, saya ingin membeli notebook” tunjuk Nisa pada notebook incarannya.
Penjaga toko itu mengambil notebook
yang ditunjuk oleh Nisa.
“berapa
harganya?”
“
Ini harganya Rp.3.500.000 de.
Nisa mengecek isi dompetnya, ternyata
duitnya kurang sepuluh ribu. Kalau masalah bayar angkot sih ya nggak papa, itu
kan masih bisa bayar di rumah saja, tapi kalau untuk membeli notebook ini tidak
bisa bayarnya nanti-nanti.
“emmm…
bisa kurang tidak mas?” Tanya Nisa agak ragu.
“
wah… ini sudah harga pasarannya de, gak bisa kurang” orang itu tersenyum.
Nisa
pun mulai berpikiran macam-macam. Menyalahkan ibu-ibu yang tadi meminta-minta
kepadanya.
“Ah
sudah lah, buat apa untuk disesalkan? Dengan aku memberi makan ibu tadi, ibu
itu bisa kuat lagi untuk mencari nafkah untuk anak-anaknya member makan satu
mulut kemudian mulut-mulut yang lain bisa makan, sepertinya itu lebih penting
dari pada aku membeli notebook, besok kan aku bisa kesini lagi, toh, Cuma
sepuluh ribu kok kurangnya.” Ucap Nisa dalam hati.
“
Oke, makasih ya mas.”
Nisa pulang.
“Assalamu’alaikum….
Nisa pulaang.”
“Waalaikum
salam. Eh, Nisa kamu pernah mengirimkan sayembara biskuit coklat itu ya?” Tanya
Ayah dan Ibu dengan tergesa-gesa dan penuh semanagat.
“
Iya, memang kenapa, Bu?
“
Ini hadiahnya datang.”
Ayah
keluar dari kamar membawa satu unit notebook hadiah dari sayembara biskuit.
“Subhanallah…….
Ini sih lebih hebat dari pada notebook yang Nisa incar tadi….”
“
Terus, notebooknya mana?” Tanya ayah dan Ibu bersamaan.
Nisa
hanya tersenyum. Nisa sekarang sadar bahwa ketika kita memberi maka Allah telah
menyiapkan balasan yang lebih besar dari apa yang kita beri kepada orang lain,
entah itu kapan dan berapa jumlahnya, dan datang di waktu yang tak
terduga-duga.