HARAPAN.....
By :
Nabilah Rahmah XI IPA 2
“Adi, mau ikut ayah ke suatu
tempat?”
“Kemana?”
“Nanti Adi juga tahu, ayo naik.
Bismillah, anak ayah berat juga.” ayah mengangkat tubuh kecil Adi naik ke
sepeda motor honda nonmatic berwarna abu-abu kehitaman yang sudah lumayan tua.
“Ayah kita mau kemana? Apa disana
banyak permen?” kata Adi dengan pertanyaan anak-anak biasanya.
“Adi mau permen, nanti ayah
belikan.” kata ayah yang disambut anggukan Adi. Adi tersenyum senang dan
memeluk tubuh ayah dengan erat.
Sesampainya di suatu tempat, di tengah hutan
terdapat gubuk tua yang hampir roboh. Ayah menurunkan Adi yang sedari tadi
bingung, matanya yang hitam bulat besar tak henti-hentinya melihat sekitar.
Terlihat disana sepasang suami istri tua yang sedang bekerja. Sang suami
memotong kayu sedangkan sang istri menyapu halaman yang penuh daun kering.
“Adi, ayo ikut ayah.” Adi mengikuti ayah
dari belakang, matanya masih kesana kemari melihat sekitar. Ini sesuatu yang
baru baginya.
“Assalamu’alaikum.” kata ayah dengan
ramahnya.
“Wa’alaikum salam.” jawab suami istri
itu dengan kompak.
Mereka menyambut ayah dan Adi dengan
senyuman lalu ayah mencium tangan tua renta mereka. “Nenek, sudah lama tidak
bertemu, maaf baru kali ini saya berkunjung.” “Tidak apa-apa nak, ini anak
kamu? lucunya mirip ayahnya.” sambung nenek.
“Ayah... nenek Adikan di Istiqamah, apa
Adi punya banyak nenek?” tanya Adi dengan polosnya. Ayah hanya tersenyum
mendengar pertanyaan Adi.
“Adi... ini nenek Imah dan kakek Amat,
mereka ini yang merawat ayah dari kecil kalau ibu dan bapaknya ayah sibuk
bekerja.” jelas ayah.
“Oh...” mulut kecil mungilnya membentuk
huruf O bulat sempurna. “Adi mengerti, jadi ini nenek dan kakek Adi juga,
iyakan yah.”
Ayah tersenyum lalu mengambil amplop
berisi uang dari saku celana hitam jeansnya. “Nek... ini ada sedikit rezeki
dari Allah untuk nenek dan kakek, harap di terima. Semoga bermanfaat untuk
kalian.”
“Terima kasih, nak... semoga Allah SWT
membalas semua kebaikanmu.”
“Ayah apa isi amplopnya? Kenapa
diberikan pada nenek?” kata Adi bingung.
“Adi ini namanya sedekah, kita harus
membantu sesama.”
“Untuk apa sedekah?”
“Untuk mendapat ridha dan pahala dari
Allah, ini salah satu cara menuju surga-Nya Allah.”
“Surga Allah? Dimana?”
“Surga bisa kita lihat setelah kita
meninggal, surga adalah tempat terbaik, terindah untuk orang-orang beriman.”
“Jadi Adi harus meninggal supaya melihat
surga.” Ayah, kakek dan nenek tersenyum mendengar perkataan Adi.
“Nanti Adi juga mengerti, ayo pamit dan
salim sama nenek dan kakek, kita mau pergi ke rumah nenek Adi di Istiqamah.”
“Asyik... ke rumah nenek...” kata Adi
dengan senangnya.
Ayah dan Adi pun pamit pada nenek Imah
dan kakek Amat. Mereka pun melanjutkan perjalanan ke rumah nenek di Istiqamah.
Sesampainya disana, rumah bercat biru dan putih di kelilingi pagar hitam dan taman
bunga tampak indah dan bersih. Terlihat di teras duduk seorang wanita tua
berkerudung coklat muda dengan jubah putih coklat menyandarkan tubuhnya di
kursi panjang. Itu nenek.
Adi berlari ke arah nenek dengan
riangnya, “Nenek...”. Mendengar teriakan Adi nenek terbangun dan mengambil kaca
matanya yang berada di meja. “Adi...” mereka pun berpelukan.
“Nenek tadi Adi kerumah nenek Imah dan
kakek Amat.” nenek pun melepaskan pelukannya, lalu ayah datang memberi salam
dan mencium tangan nenek. “Ayah tadi memberi sedekah pada nenek Imah dan kakek
Amat, kata ayah supaya dapat pahala dan masuk surga. Adi juga mau masuk surga,
bagaimana caranya, nek?”
“Salah satunya dengan bersedekah, bisa
juga berbakti pada orang tua, apalagi pada ibu karena surga di bawah telapak
kaki ibu.” jelas nenek.
“Ayah pernah mengatakan seperti itu,
tapi saat Adi lihat di kaki bunda tidak ada apa-apa.” nenek dan ayah hanya
tersenyum.
“Bukan begitu Adi.” sambung ayah.
“Bundakan yang melahirkan Adi, jadi Adi harus mendengar apa kata bunda, jangan
nakal, hormati ayah dan bunda supaya Adi menjadi anak sholeh, aamiin.” ayah
tersenyum. “Oh ya... ini permen yang Adi minta.” ayah mengulurkan permen
lolipop berbentuk hati berwarna warni ke arah Adi. Dengan polosnya Adi langsung
mengambil dan memakannya tak lupa juga berterima kasih dan membaca basmalah.
***
“Ibu... kenapa kita harus shalat?” tanya
anak laki-laki berumur 4 tahun itu.
“Karena shalat adalah kewajiban kita setiap
muslim.”
“Jadi Saleh harus shalat juga?” sambungnya.
“Salehkan masih 4 tahun jadi tidak wajib
untuk Saleh, tapi lebih baik di biasakan sejak kecil supaya lebih mudah dan
terbiasa saat dewasa.” jawab ibu dengan lembutnya.
“Kalau Saleh tidak shalat apa Saleh
berdosa?”
“Tidak, kan tidak di wajibkan untuk
Saleh tapi kalau sudah dewasa tidak shalat itu berdosa.”
“Tapi surga itu dimana bu..., kata
ustadz Hafiz surga ada di bawah telapak kaki ibu.” kata Saleh dengan polosnya.
Tiba-tiba Saleh memegang kaki ibu lalu melihatnya dengan serius. “Saleh tidak
melihat surga bu...”
Ibu tersenyum, “Saleh surga dibawah
telapak kaki ibu itu artinya Saleh harus berbakti pada orang tua khususnya ibu,
karena ibu yang melahirkan Saleh, jadi Saleh harus taat dan mendengarkan bapak
dan ibu supaya Saleh menjadi anak yang sholeh dan membawa orang tuanya masuk
surga.Aamiin.”
“Jadi Saleh bisa membawa ibu dan bapak
masuk surga?”
“Bisa, kalau Saleh menjadi orang yang
beriman dan bertakwa kepada Allah, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi
larangan-Nya.” kata ibu, walaupun tidak terlalu dimengerti Saleh yang masih 4
tahun, tapi Saleh bertekad ingin membawa orang tuanya masuk surga.
“Saleh sayang... tolong panggil bapak di
kamar, sudah masuk waktu maghrib kita shalat berjamaah.”
“Baik bu...” Saleh pun berlari ke kamar
dan memanggil bapak yang sibuk dengan laptop Toshiba berwarna abu-abu
kehitaman. Bapak dan Saleh mengambil air wudhu dan mereka shalat berjamaah di
lanjutkan mengaji bersama. Saleh masih Iqra 1, pengenalan awal untuk anak.
“Saleh, mengaji juga salah satu kita
mendapat pahala Allah.” kata ibu.
“Jadi Saleh harus banyak-banyak mengaji
supaya masuk surga.”
“Iya, tidak hanya shalat dan mengaji
tapi juga bersedekah, berbakti pada orang tua, berbuat baik kepada sesama dan
banyak lagi.”
Saleh mengangguk mengerti, mereka pun
melanjutkan mengaji sampai adzan isya berkumandang dari mesjid seberang rumah
mereka.
***
Nenek keluar
dengan nampan yang diatasnya ada teh hangat dan susu coklat Dancow. “Ini Adi, susu Dancow coklat kesukaan Adi.”
“Susu coklat...,
terima kasih nek. Bismillahirrahmanirrahim.” Adi meminum susu coklat dan
kembali menjilat permen pemberian ayah tadi.
“Terima kasih
ibu...” kata ayah.
Nenek pun duduk
di samping ayah, “Saleh..., Adi itu mirip sekali denganmu waktu kecil, suka
bertanya banyak hal, tapi ibu bangga sekarang kamu menjadi anak yang sholeh dan
sukses.”
Ayah Adi atau
lebih tepatnya Saleh tersenyum lalu memeluk erat tubuh ibunya disertai derai air
mata yang mulai menetes satu demi satu dari mata mereka. Semakin erat pelukan mereka
semakin menambah rasa sayang dan cinta mereka.
“Ayah...” kata
Adi, ayah pun melepaskan pelukan, menghapus air matanya dan beralih kearah Adi
yang masih menjilat-jilat permen lolipopnya . “Adi sayang ayah dan bunda. Adi
ingin membawa ayah dan bunda masuk surga-Nya Allah, nenek dan kakek juga.”
Rekahan senyum
mengembang dari mulut ayah dan nenek, mereka pun berpelukan dan melanjutkan
perbincangan mereka.
“Ibu dan bapak
terima kasih atas semua yang kalian berikan kepada Saleh. Semoga Saleh menjadi
anak yang beriman, bertakwa kepada Allah, berbakti pada orang tua dan membawa
kalian ke surga Allah.”