Sahabat Kiriman Allah SWT

Sahabat Kiriman Allah SWT.

            Berjalan diririntikan hujan, disore hari memang menjadi rutinitasku untuk saat ini, seraya bersyukur karna apa yang sudah ku dapatkan selama hidup didunia-Nya yang penuh dengan keindahan alam yang tak dapat dilukiskan dengan perkataan. Aku tersenyum menengadahkan kepalaku menatap lelangitan yang sedang menurunkan ririntikkan hujan sungguh aku tak pernah menyangka hari ini hari membahagiakan untukku, sama seperti hari lainnya pagi-pagi berangkat sekolah dan bertemu dengan semua teman. Namun, entah apa yang membuatnya berbeda aku merasakan sangat bahagia berada ditengah teman-temanku.
“Semuanya foto yuk” ajak salah seorang temanku saat ia kembali kekelas.
“Ayoo…” semuanya berteriak berlarian mencari tempat yang pas untuk berfoto tak terkecuali aku, aku ikut dengan mereka.
            Saat semuanya asik berfoto terpikir olehku, aku sempat menatap mereka satu persatu, sekarang aku berada ditengah mereka, aku berada diantara teman-temanku yang begitu menyayangiku orang-orang yang sempat aku takutkan akan menyakitiku saat pertama kali berkenalan, orang-orang yang sempat tak ingin ku kenali lebih jauh tapi sekarang? Aku berada disini, bersama mereka berbagi tawa dan bahagia.
“Ya Allah, apa yang pernah aku pikirkan tentang mereka? Kenapa hatiku begitu sangat tidak baik saat itu, ampuni aku bawa aku terhadap hal baik tentang segala pikiranku” lamunku berbicara dengan batinku untuk menghilangkan segala rasa bersalahku, begitu banyak lamunan hingga aku tak sadar temanku berada dihadapanku.
“Hey kenapa melamun? Apa ada masalah? Ceritakan...” tegurnya padaku ramah, aku tersenyum lalu menggeleng. “Aku tidak apa-apa, ayoo kita kembali bergabung” ajakku menghilangkan rasa gundahku.
“Sungguh mereka begitu hebat membuatku tertawa seperti tak memiliki masalah apapun, jangan buat aku berpikiran buruk untuk segala hal apapun itu pada mereka…” batinku kembali terucap lalu sejenak melupakan bergabung dengan teman-temanku.
            Sepulang sekolah aku menemui sahabatku yang memang sudah lama tak bertatap muka denganku, ia menyambutku dengan senyuman yang manis. Kami berbeda sekolah hingga kami jarang bertemu namun ia selalu menghubungiku dan aku selalu memberinya kabar, bagiku dialah sahabat terbaikku, aku mulai menceritakan segala masalahku padanya bahkan semua prasangka burukku terhadap teman-temanku, ia menanggapinya dengan awal senyuman lalu menatap dan memberiku nasehat.
“Bilqis kini prasangka mu diawal sudah dijawab oleh Allah SWT. Mereka bukan hal yang perlu kamu hindari, cobalah kamu pikirkan untuk apa kamu dipertemukan dengan mereka jika mereka hanya akan menyakitimu?” tanyanya padaku, aku menunduk lalu mengangguk.
“Hilangkan prasangka itu, mulailah dengan yang baik dari sekarang aku yakin mereka bukanlah orang yang jahat, mereka baik, mereka hanya melakukan sebuah kesalahan yang tak mereka sengaja Bilqis…”
“Hanum, mengingat diawal aku pernah sekali merasakan sakit dihati karna perbuatan tak disengaja itu, aku menjadi takut selalu bergabung…”
“Bilqis, apakah kamu pernah diajarkan memiliki dendam? Apakah kamu tidak pernah belajar akan bagaimana jika kamu memiliki dendam, hilangkan Bilqis, hilangkan dendam dihati”
“Aku tidak dendam Hanum, aku hanya masih merasakan sakit itu…”
“Kamu merasakannya karna kamu terus mengingatnya, lupakan mulailah dengan segala yang baik untuk yang baru yakinlah hati kamu bahwa kamu pun bahkan memiliki mereka yang masih berbaik padaku dan yakinlah mereka mungkin sahabat kiriman Allah SWT. Untuk kamu Bilqis…”
“Kamu lah sahabat yang dikirimkan Allah SWT. Untukku” sanggahku pada Hanum.
“Apa kamu hanya menginginkan sahabat satu orang didunia, hey Bilqis ini dunia yang luas kamu tidak hanya berada disatu tempat, perbanyak teman dan sahabatmu” ucap Hanum padaku, lalu ia tersenyum dan berdiri. “Oke Bilqis, hari sudah hampir sore lebih baik kita pulang, ayoo” ajaknya padaku, aku mengikuti Hanum hingga kami harus berpisah.
“Hati-hati yah Bilqis, dan ingat jangan pernah mengingat kejahatan orang lain dan menjadikannya alasan untuk menghindari orang lain, terus hidup dan tinggalkan masa lalu yang pahit” ucap Hanum padaku dan berlalu meninggalkanku, aku berjalan kearah rumah dan sesampainya dirumah langsung memasuki kamar.
            Aku hanya memikirkan ucapan Hanum, ada benarnya ucapan Hanum aku tak seharusnya memikirkan semua kejahatan orang lain dan menjadikannya alasan untuk menghindar, aku makhluk hidup masih membutuhkan orang lain untuk terus hidup. Apa salahnya aku berbaur selama masih ada waktu untuk memperbaiki semuanya.
“Assalamualaikum Bilqis…” sapa teman sekelasku padaku, aku tersenyum lalu menjawab salamnya.
“Wa’alaikum Salam Aisyah” jawabku lalu ia tersenyum dan berlalu.
“Bilqis apakah kamu ingin keperpustakaan?” Tanya Zahra yang duduk dibelakangku, aku tersenyum lalu mengangguk.
“Bagus, ayo kita berbarengan” ajaknya berdiri, aku pun mengikutinya.
“Ya Allah, kenapa aku baru menyadarinya? Mereka baik padaku hanya aku terlalu terbawa tentang perasaan yang menyakitkan, aku menyayangi mereka mulai dari sekarang, Hanum benar mungkin mereka semua adalah sahabat-sahabat kiriman Allah SWT. Untuk menemaniku, memberikanku sebuah kehangatan dengan senyuman tulus mereka, memberikan aku tawa dihidupku, memberikan warna warni indah dihari-hariku, bahkan memberikanku sebuah cobaan dengan perilaku mereka agar aku lebih kuat dan tetapi tidak lupa memberiku sebuah kasih sayang dari seorang sahabat. Terima kasih Ya Allah sudah mempertemukanku dengan mereka semua, jaga aku, jaga mereka semua, jaga semua sahabatku, lindungi kamu, serta sayang kamu semua, aamiin…”



Nama Pengarang: Uswatun Hasanah.
Kelas: XI IPA1.
Judul: Sahabat Kiriman Allah SWT.