Berjalan diririntikan hujan, disore
hari memang menjadi rutinitasku untuk saat ini, seraya bersyukur karna apa yang
sudah ku dapatkan selama hidup didunia-Nya yang penuh dengan keindahan alam
yang tak dapat dilukiskan dengan perkataan. Aku tersenyum menengadahkan
kepalaku menatap lelangitan yang sedang menurunkan ririntikkan hujan sungguh
aku tak pernah menyangka hari ini hari membahagiakan untukku, sama seperti hari
lainnya pagi-pagi berangkat sekolah dan bertemu dengan semua teman. Namun,
entah apa yang membuatnya berbeda aku merasakan sangat bahagia berada ditengah
teman-temanku.
“Semuanya
foto yuk” ajak salah seorang temanku saat ia kembali kekelas.
“Ayoo…”
semuanya berteriak berlarian mencari tempat yang pas untuk berfoto tak
terkecuali aku, aku ikut dengan mereka.
Saat semuanya asik berfoto terpikir
olehku, aku sempat menatap mereka satu persatu, sekarang aku berada ditengah
mereka, aku berada diantara teman-temanku yang begitu menyayangiku orang-orang
yang sempat aku takutkan akan menyakitiku saat pertama kali berkenalan,
orang-orang yang sempat tak ingin ku kenali lebih jauh tapi sekarang? Aku
berada disini, bersama mereka berbagi tawa dan bahagia.
“Ya
Allah, apa yang pernah aku pikirkan tentang mereka? Kenapa hatiku begitu sangat
tidak baik saat itu, ampuni aku bawa aku terhadap hal baik tentang segala
pikiranku” lamunku berbicara dengan batinku untuk menghilangkan segala rasa
bersalahku, begitu banyak lamunan hingga aku tak sadar temanku berada
dihadapanku.
“Hey
kenapa melamun? Apa ada masalah? Ceritakan...” tegurnya padaku ramah, aku
tersenyum lalu menggeleng. “Aku tidak apa-apa, ayoo kita kembali bergabung”
ajakku menghilangkan rasa gundahku.
“Sungguh
mereka begitu hebat membuatku tertawa seperti tak memiliki masalah apapun,
jangan buat aku berpikiran buruk untuk segala hal apapun itu pada mereka…”
batinku kembali terucap lalu sejenak melupakan bergabung dengan teman-temanku.
Sepulang sekolah aku menemui
sahabatku yang memang sudah lama tak bertatap muka denganku, ia menyambutku
dengan senyuman yang manis. Kami berbeda sekolah hingga kami jarang bertemu
namun ia selalu menghubungiku dan aku selalu memberinya kabar, bagiku dialah
sahabat terbaikku, aku mulai menceritakan segala masalahku padanya bahkan semua
prasangka burukku terhadap teman-temanku, ia menanggapinya dengan awal senyuman
lalu menatap dan memberiku nasehat.
“Bilqis
kini prasangka mu diawal sudah dijawab oleh Allah SWT. Mereka bukan hal yang
perlu kamu hindari, cobalah kamu pikirkan untuk apa kamu dipertemukan dengan
mereka jika mereka hanya akan menyakitimu?” tanyanya padaku, aku menunduk lalu
mengangguk.
“Hilangkan
prasangka itu, mulailah dengan yang baik dari sekarang aku yakin mereka
bukanlah orang yang jahat, mereka baik, mereka hanya melakukan sebuah kesalahan
yang tak mereka sengaja Bilqis…”
“Hanum,
mengingat diawal aku pernah sekali merasakan sakit dihati karna perbuatan tak
disengaja itu, aku menjadi takut selalu bergabung…”
“Bilqis,
apakah kamu pernah diajarkan memiliki dendam? Apakah kamu tidak pernah belajar
akan bagaimana jika kamu memiliki dendam, hilangkan Bilqis, hilangkan dendam
dihati”
“Aku
tidak dendam Hanum, aku hanya masih merasakan sakit itu…”
“Kamu
merasakannya karna kamu terus mengingatnya, lupakan mulailah dengan segala yang
baik untuk yang baru yakinlah hati kamu bahwa kamu pun bahkan memiliki mereka
yang masih berbaik padaku dan yakinlah mereka mungkin sahabat kiriman Allah
SWT. Untuk kamu Bilqis…”
“Kamu
lah sahabat yang dikirimkan Allah SWT. Untukku” sanggahku pada Hanum.
“Apa
kamu hanya menginginkan sahabat satu orang didunia, hey Bilqis ini dunia yang
luas kamu tidak hanya berada disatu tempat, perbanyak teman dan sahabatmu” ucap
Hanum padaku, lalu ia tersenyum dan berdiri. “Oke Bilqis, hari sudah hampir
sore lebih baik kita pulang, ayoo” ajaknya padaku, aku mengikuti Hanum hingga
kami harus berpisah.
“Hati-hati
yah Bilqis, dan ingat jangan pernah mengingat kejahatan orang lain dan
menjadikannya alasan untuk menghindari orang lain, terus hidup dan tinggalkan
masa lalu yang pahit” ucap Hanum padaku dan berlalu meninggalkanku, aku
berjalan kearah rumah dan sesampainya dirumah langsung memasuki kamar.
Aku hanya memikirkan ucapan Hanum,
ada benarnya ucapan Hanum aku tak seharusnya memikirkan semua kejahatan orang
lain dan menjadikannya alasan untuk menghindar, aku makhluk hidup masih
membutuhkan orang lain untuk terus hidup. Apa salahnya aku berbaur selama masih
ada waktu untuk memperbaiki semuanya.
“Assalamualaikum
Bilqis…” sapa teman sekelasku padaku, aku tersenyum lalu menjawab salamnya.
“Wa’alaikum
Salam Aisyah” jawabku lalu ia tersenyum dan berlalu.
“Bilqis
apakah kamu ingin keperpustakaan?” Tanya Zahra yang duduk dibelakangku, aku
tersenyum lalu mengangguk.
“Bagus,
ayo kita berbarengan” ajaknya berdiri, aku pun mengikutinya.
“Ya
Allah, kenapa aku baru menyadarinya? Mereka baik padaku hanya aku terlalu
terbawa tentang perasaan yang menyakitkan, aku menyayangi mereka mulai dari
sekarang, Hanum benar mungkin mereka semua adalah sahabat-sahabat kiriman Allah
SWT. Untuk menemaniku, memberikanku sebuah kehangatan dengan senyuman tulus
mereka, memberikan aku tawa dihidupku, memberikan warna warni indah
dihari-hariku, bahkan memberikanku sebuah cobaan dengan perilaku mereka agar
aku lebih kuat dan tetapi tidak lupa memberiku sebuah kasih sayang dari seorang
sahabat. Terima kasih Ya Allah sudah mempertemukanku dengan mereka semua, jaga
aku, jaga mereka semua, jaga semua sahabatku, lindungi kamu, serta sayang kamu
semua, aamiin…”
Nama Pengarang: Uswatun
Hasanah.
Kelas: XI IPA1.
Judul: Sahabat Kiriman
Allah SWT.