“SEPUCUK SURAT BERHARGA…”
Oleh : Muhammad Rizqi Ramadhani
Entah kenapa, pagi ini cuaca bergitu indah, lebih indah dari hari-hari sebelumnya. Cahaya matahari yang dipancarkan oleh TUHAN jagat raya ini begitu lembut, lembut menyentuh dunia, menembus kamar-kamar dirumah sakit, sinar itu membangunkanku dari tidurku, ya, aku juga tidak tau mengapa, tapi saat aku membuka mataku untuk pertama kalinya setelah sekian lama aku tak sadarkan diri, aku terbaring di ranjang dengan sebuah selimut dan kipas angin yang berputar pelan diatas kepalaku, serta selang infuse yang tertancap ditanganku, aku sendirian, entah apa yang terjadi padaku sebelumnya. Aku sama sekali tidak ingat.
Saat aku mencoba bangkit dari baringku, aku melihat gagang pintu kamarku yang
berada dikananku bergerak, seseorang masuk, “Fajaaaaarr, kamu sudah sadar nak,
Puji syukur kepada Allah yang telah menyadarkanmu kembali nakk, dokteer,
dokteerr!!” kata orang itu sontak terdengar memecah kesepian kamar rumah sakit,
dia memelukku dengan erat sambil meneteskan air matanya, seperti air keran yang
dibuka penuh.
Dokter dengan wajah menyenangkan itu mulai memeriksa ku dengan teliti,
“syukurlah, keadaan anak ibu sudah baikan, dia perlu sedikit penyesuaian, dan
perlu di bantu untuk kembali berlatih berjalan, karena sudah hampir 7 bulan
anak ibu tidak sadarkan diri” kata dokter dengan wajah menyenangkan itu.
Apa?! 7 bulan?, apakah yang dikatakan dokter itu benar, sudah 7 bulan aku
berada dirumah sakit ini?, apakah bergitu buruknya kejadian yang menimpaku
sampai-sampai aku koma 7 bulan!?, apa yang terjadi padaku?, aku semakin bingung
mendengar kata-kata dokter dengan senyuman yang meneduhkan itu. “iya dokter,
terimakasih banyak!” singkat kata wanita dengan wajah menyenangkan itu,
“baiklah, kalau ada apa-apa ibu bisa menghubungi saya” sambung dokter dengan
wajah menyenangkan itu.
Aku hanya diam memikirkan apa yang terjadi padaku sebelumnya, sepertinya ingatanku
tercecer disuatu tempat, entah dimana itu, aku semakin bingung. “Fajar, kamu
merasa lebih baik bukan?, apakah kamu ingin makan?” tanya wanita dengan wajah
menyenangkan itu. “iya bu, aku merasa baikan, embb, sementara ini aku hanya
ingin minum bu, bisakah ibu mengambilkan aku segelas air?, aku agak haus bu”
jawabku kepada wanita dengan wajah menyenangkan itu, wanita cantik itu adalah
ibuku, “tentu saja, sebentar ya” jawabnya singkat, “ini dia jar, ingat, baca
dulu basmallah sebelum kamu minum ya nak, supaya kamu diberikan berkah oleh
Allah” katanya lembut. Setelah memberikan minuman hangat-hangat kuku itu
kepadaku, ia langsung melihat keatas mencari arah kiblat dan langsung bersujud
kepada TUHAN yang maha kuasa sebagai tanda kesyukurannya sambil mengeluarkan
air matanya.
Sambil memegang gelas yang berisi air setengah berisi dan setengah lagi kosong
itu aku mulai bertanya kepada ibuku perihal apa yang sebenarnya terjadi
kepadaku, “eee, ibu, sebenarnya kenapa aku berada disini dan koma selama 7
bulan?!, apa yang terjadi bu??” tanyaku penasaran, wanita dengan wajah
menyenangkan itu tertunduk kemudian terisak, suasana disini mulai berubah, aku
semakin bingung dan mengulang pertanyaanku, “kamu kecelakaan nak”, apa? Aku?
Kecelakaan, dimana?, aku semakin penasaran, “kamu kecelakaan 7 bulan yang lalu
sehabis bagi raport disekolahmu” lanjutnya, “kamu kemarin naik mobil bersama
ayahmu sebelum kecelakaan, memang cuaca sangat buruk hari itu, saat menyeberang
untuk mengisi bensin di Pertamina, tiba-tiba ada truk container menabrak kalian
dengan kecepatan tinggi kamudian mobil yang kalian tumpangi terlempar 50 meter”
tuturnya terisak.
Aku tercengang mendengar penuturan ibuku, “Astagfirullah, lalu, dimana ayah
sekarang bu?!”, raut muka wanita dengan wajah menyenangkan itu seketika
berbubah “maaf ibu harus mengatakan ini padamu, karena cepat atau lambat, pasti
kamu akan mengetahuinya juga, jadi, tidak ada gunanya juga ibu menutupinya,
kamu harus sabar ya Fajar, ayahmu sudah dipanggil Allah kembali kepada-Nya” ia
menangis, aku pun menangis, suasana kebahagiaan akan kesadaranku pun berubah
menjadi kesedihan, langit pun ikut menangisi kepergian ayahku, semoga Allah
mengampuni segala dosanya, dan menerima semua amalnya, dan memberikan tempat
yang terbaik untuknya di akhirat, Aamiinn.
“bagaimana persis kejadiannya bu, sehingga aku bisa selamat, dan kembali sehat
seperti sekarang?” ucapku, “sesaat sebelum kecelakaan terjadi, ayahmu meninggal
sambil memelukmu dengan erat, meskipun mobil yang kalian kendarai terlempar
jauh, kamu tidak lepas dari pelukannya, semoga Allah meridhai ayahmu dan
menempatkannya di Surga, Aamiin.” Tuturnya dengan penuh harap, “kamu harus
banyak-banyak bersyukur kepada Allah, karena Dia menyelamatkanmu dari maut,
memberikan kamu kesempatan hidup didunia lagi, banyak-banyaklah bersyukur
kepada Allah, karena semua jiwa ada ditangan-Nya” tersenyum dengan nasihat yang
dia berikan padaku, “Innalillahi, ayah meninggal?, syukurlah Allah melindungiku
melalui pelukan Ayah” perasaanku campur aduk, disatu sisi senang karena aku
selamat dari maut, disatu sisi aku sedih karena kehilangan ayah yang teramat
aku sayangi.
Disela-sela pembicaraan kami tentang kakuatan TUHAN yang agung itu, tiba-tiba
saja ada seseorang yang mengetuk pintu kamar ku dengan senyum lembut memenuhi
wajahnya masuk dan memberikan aku makanan untuk disantap siang ini, “ini,
silahkan dimakan dulu ya dek makanannya biar cepat sembuh dan bisa beraktifitas
lagi seperti biasa, oh iya, ini obatnya diminum sesudah makan ya dek” tutur
perawat berbaju putih itu, “terimakasih” jawabku sambil membalas melemparkan
senyum kecilku padanya, “nih Fajar, kamu makan dulu makanannya, jangan lupa
baca Basmallah ya nak” sapa ibu dengan lembut, “iya bu,
bismillahirrohmanirrohim…” aku mengambil sendok yang terbungkus sebuah tisu
putih dan membuka plastik makanan, wah, alhamdulillah lauk makanan yang
dibawakan perawat tadi adalah menu faforitku, sudah 7 bulan aku tidak
memakannya karena selama tidak sadarkan diri dan hanya diberi makan infuse,
akupun memulai makanku, “alhamdulillah, Puji Syukur Kehadirat Allah yang telah
mengenyangkan perutku, semoga makanan ini membawa berkah untukku. Aamiinn” aku
meletakkan sendok dipiring bermotif bunga yang telah kosong itu dan menyapu
mulutku dengan selembar tisu putih pembungkus sendok tadi, pertanda aku telah
selesai makan , “Alhamdulillah, kamu lahap makannya nak, terimakasih ya Allah,
Engkau telah memberi kebahagiaan yang sangat besar kepada hambamu, Alhamdulillah
ya Allah” kata ibu sambil menengadahkan tangannya kelangit, “nah, sekarang,
kamu minum obatnya ya jar, jangan lupa baca doa dulu, semoga diberi kesembuhan
oleh Allah, obat ini cuma perantara, ingat itu, jangan bilang karena obat kamu
sembuh ya, ini obatnya” lanjutnya sambil menyerahkan obat pil hijau putih itu
kepadaku “AllahummaLaSyifa’aIllaSyifaukaIsyfiYaAllah, Aamiinn” gerakan mulutku
berdo’a kepada Sang Pencipta Alam Raya, aku memasukan obat pil itu dengan 2 3
teguk air, “aahh, Alhamdulillah” ucapku seusai meminum obat.
Aku memperhatikan sekelilingku, mencari jam dinding, kalau perawat yang tadi
masuk memberikan makanan mengatakan untuk makan siang, pasti sudah
waktunya dzuhur, akhirnya mataku melihat jam dinding berbentuk persegi diatas
pintu sebelah kananku, jam itu menunjukan pukul 1 siang, “astagfirullah, sudah
jam 1 siang, aku belum sholat dzuhur, ibu, aku mau shalat dzuhur dulu ya!”,
“iya, ibu juga belum sholat, karena hujan lebat ibu tidak mendengar suara adzan,
yaudah, kamu tayamum ya, sholatnya sambil duduk aja, Allah mengijinkan, jika
tidak mampu sholat berdiri, maka duduk, tidak tidak mampu duduk berbaring, jika
tidak mampu berbaring, jika tidak bisa berbaring sholat dengan isyarat mata,
jika tidak bisa juga sholat dengan isyarat mata maka sholatlah dengan hati,
seperti yang disabdakan Rasulullah Muhammad SAW, oh iya, kamu tayammum aja”
jawabnya dengan lembut.
Aku menyentuh dan menyapu dinding untuk mulai bertayammum, maklum, aku masih belum
bisa berjalan karena sudah 7 bulan aku tidak menggerakkan tubuhku, karena koma
akibat kecelakaan mobil yang merenggut nyawa ayahku, mungkin kalian bisa
membayangkan, seorang anak usia 16 tahun terbaring lemah tak berdaya diatas
kasur dengan sebuah selimut selama 7 bulan!, selesai ber-tayammum aku
mengangkat takbir tanda memulai shalatku, aku terharu, karena sudah sekian lama
aku tidak sholat, aku sungguh terharu bisa kembali bertemu dengan TUHAN setelah
sekian lama melalui shalat, setelah selesai shalat aku berdoa kepada TUHAN “Ya
Allah, Yang mana Jiwaku ada ditangan-Nya, yang Pemberi kehidupan, yang
membolak-balikkan hati manusia, terimakasih Engkau telah memberikan hamba
kesempatan untuk melihat dunia yang indah, yang Engkau ciptakan dengan sempurna,
Ya Allah, ampunilah dosa hamba, dosa orang tua hamba, sayangilah mereka,
sebagaimana mereka menyangi aku diwaktu kecil, Aamiinn” ucapku dalam hati.
Ibu menatapku, aku pun menatap ibu, senyum ibu yang lembut penuh kehangatan
menghilangkan dinginnya cuara hari ini, “Fajar, kamu sudah shalat nak, giliran
ibu sholat ya, tunggu sebentar” ucap ibu sambil tangannya yang keriput
menyentuh kepalaku dengan hangat, “iya bu” jawabku singkat.
Hujan pun berhenti, bersamaan dengan selesainya shalat ibu, aku menatap keluar
jendela kamarku untuk melihat langit, benar saja, hitamnya langit berganti
dengan pelangi yang indah, mataharipun juga ikut muncul menandakan kehidupan
baruku bersama ibu akan dimulai, setelah badai muncul pelangi yang berwarna-warni,
sungguh indah bukan!?, mereka seperti menyampaikan pesan TUHAN yang Maha Indah
tentang kehidupan ini.
Ibu melipat mukenanya yang putih bersih itu dan ikut melihat keluar jendela
kamar rumah sakit, “Fajar, kamu liat kan pelangi itu? Sungguh indah, setelah
badai pasti akan muncul pelangi, itu artinya hidup ini penuh dengan cobaan dari
TUHAN yang kita anggap seperti badai itu, jika kita berhasil melalui cobaan
itu, kita pasti akan melihat kaindahan dibalik cobaan itu, seperti pelangi yang
sangat indah disana, semua orang pasti akan diuji oleh Allah dengan cobaannya
masing-masing, yang sesuai dengan kemampuannya, Allah bilang, Dia tidak akan
memberikan cobaan kepada seorang hamba diluar kemampuannya, jadi kamu jangan
terlalu sedih akan kematian ayahmu ya, ini merupakan cobaan bagi kita, jangan
berlarut-larut dalam kesedihan” katanya sambil memelukku dengan erat, aku tidak
bisa berkata apa-apa lagi, seketika kesedihanku akan kematian ayah sirna
seketika. Ibu mengambil kursi roda dan mengajakku jalan-jalan ketaman rumah
sakit didepan kamarku.
Dengan mengucapkan Basmallah, ibu mendorongku perlahan ketaman rumah sakit,
kami menghirup segarnya udara, aroma khas setelah hujan lebat dibawah langit
biru yang berpelangi, sudah lama aku tidak mencium aroma seperti ini semenjak
kecelakaan. Kami berhenti dibawah salah satu pohon besar yang lebat dengan
bunga mawar didepannya, ibu menunjukan sepucuk surat kepadaku, “bacalah”
katanya, aku mengambil surat itu, gemetar, aku tidak tau apa isinya, aku
membuka surat yang kusam itu.
“Untuk anakku, Fajar, semoga selalu dalam lindungan
ALLAH, Aamiinn”
Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi
maha penyayang
Ayah tidak
tahu harus bilang apa, jika kamu membaca surat ini, berarti ayah sudah tidak
ada lagi untuk melindungi mu dan ibumu, ayah hanya ingin berpesan kepadamu,
jikalau nanti kamu sudah dewasa, kamu jangan durhaka kepada Ibumu ya, do’akan
ibumu selalu, supaya dia selalu dilindungi oleh Allah, hormati orang yang
lebih tua dari kamu, sayangilah orang-orang yang menyayangi kamu, jadilah orang
yang dermawan, jadilah pria yang bertanggung jawab, kamu jangan lupa makan,
jangan jadi orang yang sombong, amalkan isi Al-Qur’an, jangan lupa
shalat, dan yang paling penting kamu jangan lupa dengan ALLAH, lakukanlah semua
perintahnya, dan jauhilah semua larangannya dengan begitu kamu pasti
hidup bahagia di dunia dan akhirat , ayah berharap, Ayah, Ibu dan Kamu
bisa berkumpul bersama disurga-Nya
Aamiinn.
Kami menyayangimu anakku
Salam Hangat
Ayahmu tercinta
Seusai membacanya,
aku langsung memeluk ibu, ibu menangis, “Fajar, jika nanti ibu menyusul ayahmu,
kamu harus taat kepada Allah ya, jangan sampai kamu melanggar perintahnya,
terutama Shalat mu, jangan bolong-bolong, doa’kan ayahmu ya semoga dia berada
ditempat yang diberkahi Allah, dan doakan ibumu juga selalu, supaya ibu selalu
sehat dan kuat, agar ibu bisa melihat kamu wisuda nanti, sampai kamu menikah
dan punya anak” kata ibu sambil menitikkan air matanya, aku tidak tau harus
berkata apa, aku hanya bisa menundukan kepalaku, tanda aku meng iyakan
perkataan ibu.
Keesokan harinya, aku meminta ibu membawaku ke Pemakaman ayah, ibupun
mengiyakannya, dengan kursi roda, aku melihat didalam komplek pemakaman yang
hijau nan luas itu sebuah nisan yang bertuliskan nama ayahku, saat itu aku
tersadar, saat nanti waktuku aku juga akan terbaring didalam tanah yang dingin
itu.
Aku ingin memenuhi janjiku pada ayah dan ibu untuk berbakti kepada TUHAN dan
orang tua ku yang ku sayangi dengan sepenuh hatiku, hari ini, aku mendoakan
ayahku yang terbaring didalam tanah yang dingin itu dari atas tanah yang penuh
dengan cahaya TUHAN, ibu juga melakukan hal yang sama, aku harus menjadi orang
yang berguna dimasa depan nanti, jangan merepotkan ibu yang masih bersamaku dan
meringankan beban ayahku yang sudah berada dialam yang berbeda dengan kami
berdua. Semoga kami bisa kembali bersama disurga-Nya nanti, Aamiinn.
--“TAMAT”--
SEKIAN DAN TERIMAKASIH
(Muhammad Rizqi Ramadhani l XI IPA 1)