Ikhlas

Ikhlas
              Aku menatap adikku yang tengah berlarian ditaman rumah sakit, ia sangat ceria tampak tak mempunyai beban. Siapa yang dapat menyangka? Adik kecilku itu tengah berjuang? Adik kecilku itu tengah berusaha menjauhkan diri dari kematian yang mendekatinya? Aku pun tidak pernah menyangka, mengingat adik kecilku itu sangat aktif layaknya anak yang sehat. Ku lihat dari kejauhan abi dan umi tengah menemani Zahra berlarian ditaman rumah sakit, terlihat dari wajah mereka, mereka berdua tengah menutupi kesedihan tentang apa yang tengah menimpa putri mereka.
                  Kata-kata dokter tempo hari masih terngiang dibayanganku, rasanya seperti terhempas jauh saat mendengar bahwa adikku dinyatakan mengidap lupus, penyakit yang sangat mematikan. Mengingatkanku kepada sahabatku yang juga mengidapnya dan dengan waktu yang cepat sahabatku meninggal dunia, aku tidak bisa membayangkan itu terjadi pada adikku. Adikku adalah hal yang sangat ku harapkan sejak dulu, aku ingin sekali memiliki adik dan sekarang? Disaat aku memiliki nya apakah Allah ingin mengambilnya kembali? Ku mohon jangan.
                  Sudah beberapa hari ini juga aku menghindari Zahra yang selalu ingin mengajakku bermain, bukan karena aku membencinya aku hanya tak sanggup jika bertatap mata dengan adik semata wayangku itu, aku ingin sekali menemaninya dihari-harinya tapi aku tidak sanggup. Sampai waktu itu, Zahra menangis memintaku untuk menemaninya bermain diatas ranjang rumah sakit dengan hati yang sedih aku menemaninya, ia berkata padaku “Kak Zalfa, kalau aku udah engga ada nanti, kakak ga boleh menangis, kakak ga boleh bersedih, kakak harus ingat jika aku pergi pasti aku pergi ketempat yang indah, jika aku pergi pasti Allah menyayangiku meski disini banyak yang menyayangiku tetapi pasti Allah lebih menyayangiku, apakah kakak mau berjanji padaku?” Tanya nya membuat aku merasa terhantam puluhan batu, apakah ia akan meninggalkanku cepat? Kenapa ia berkata seperti tu. “Kenapa berkata seperti itu? Kakak yakin Zahra bisa sembuh kok, jangan mencoba mendahului kehendak Allah Zahra itu tidak baik” aku mencoba menahan airmataku. “Kakak, Zahra tau kok, tapi kan segala sesuatu yang berasal dari Allah pasti akan kembali kepada Allah” ucapnya, sungguh adik kecilku yang masih berumur 6 tahun ini sangat membuatku ingin menangis kencang sekarang. “Kakak mau berjanji?” tanyanya lagi, aku menganggukkan kepalaku.
                  Seminggu setelah Zahra memintaku untuk berjanji, ia pergi, pergi untuk selamanya aku tidak pernah menyangka secepat ini Zahra meninggalkanku. Aku sangat sedih, tetapi aku sudah berjanji pada Zahra bahwa aku takkan pernah larut dalam kesedihan kepergiannya. Aku mengingat kata-kata Zahra adik kecilku yang berumur 6 tahun itu bahwa segala sesuatu yang berasal dari Allah SWT. Pasti akan kembali kepada-Nya. Aku mencoba mengikhlaskan Zahra meski berat karena aku yakin Zahra pasti akan bahagia disana, banyak orang yang sangat menyayangi Zahra tetapi Zahra benar Allah lebih menyayanginya.

Nama Pengarang: Uswatun Hasanah.
Kelas: XI IPA1.

Judul: Ikhlas.