Rintikkan hujan membasahi bumi,
semua tamanan menari-menari dibawa angin seolah-olah mereka mengatakan bahwa
mereka merindukkan hujan. Sudah sangat lama bumi ini tidak dibasahi rahmat
Allah SWT. Ini. Namun, ternyata jauh dari semua orang dan tanaman yang
berbahagia dengan mendapatkannya ramah yang diberikan Allah SWT. Ada seorang
yang sedang termenung menatapi rintikkan hujan yang berjatuhan dengan lebatnya.
Didalam hati seorang ini ia terus menggerutu tentang turunnya hujan, ia
Aisyah!. Aisyah sebenarnya sudah berbahagia dengan kabar bahwa musim kemarau
akan sedikit panjang tetapi sekarang ia kembali mendapatkan kesedihan karna
berjumpa dengan musim hujan.
Aisyah masih terus termenung dibalik
kaca jendelanya, sebenarnya Aisyah tak pernah ada niatan sedikitpun untuk
membenci musim hujan, tetapi ada sesuatu yang membuat Aisyah membenci hujan,
entah apa penyebabnya Aisyah kaki Aisyah selalu merasa kram saat menyentuh air
hujan. Jujur, sampai saat ini Aisyah masih tidak mengetahui apa jenih
penyakitnya ini, tetapi yang jelas ia sangat kesakitan jika terkena air hujan.
Aisyah sangat menyadari bahwa membenci rahmat yang dibeirkan Allah SWT. Sangat
tidak baik, tapi satu lagi Aisyah tidak bisa mengendalikan perasaannya untuk itu
semua. Aisyah lama melamun hingga ia tersadar bahwa hujan sudah reda, segurat
senyuman menghiasi wajah Aisyah.
Keesokkan harinya Aisyah berniat
untuk berpergian kerumah teman lamanya yang lama tinggal dikota, temannya hanya
beberapa hari didesa dan hari ini adalah hari terakhirnya, Aisyah baru saja
mengetahui bahwa ia sudah berada didesa dan dengan semangat Aisyah ingin
menemuinya karna sudah sangat merindukannya. Dengan langkah senang Aisyah
berjalan menuju halaman rumahnya, baru saja ia ingin melangkahkan kakinya
melewati teras tiba-tiba bumi kembali diguyur hujan lebat membuat Aisyah
buru-buru meloncat menuju teras kembali.
Sejenak Aisyah menatap buliran-buliran yang berjatuhan dengan derasnya
terlihat wajah sedih Aisyah disana, ia membuka mulutnya dan sedikit menggerutu
“Selalu saja seperti ini jika musim hujan, sangat menyebalkan!” Aisyah
menghentakkan kakinya lalu berjalan menuju ruang tamu dirumahnya, ia menduduki
sofa yang ada disana perlahan air mata nya menetes, ia sangat kesal untuk saat
ini. Aisyah mengambil bantal yang ada disofa dan menutupkan kewajahnya saat
menyadari bundanya yang melewati nya. Bunda yang sudah melihat Aisyah menangis
pun langsung menghampiri putrinya itu.
“Ada apa Aisyah?” Tanya
Bundanya lembut lalu duduk disamping Aisyah.
“Bunda…” panggil Aisyah
menatap bundanya. “Bunda boleh ga sih Aisyah menyalahkan takdir yang sudah
diberikan Allah kepada Aisyah?” Aisyah menatap bundanya dengan tatapan keingin
tahuannya. Bundanya tersenyum kearah Aisyah, ia mengerti penderitaan putinya
untuk saat ini. Dengan perasaan yang sangat lembut bunda mengelus puncak kepala
Aisyah.
“Aisyah, coba deh bunda
Tanya ke kamu, apakah Aisyah akan terima kepada orang yang sudah menyetujui
serta menyanggupi segala hal yang sudah Aisyah katakan? Lalu setelah ia
mengatakan bahwa ia menyanggupinya dan ia mendapatkan suatu yang tidak
mengenakkan dia tiba-tiba menyalahkan Aisyah atas apa yang sudah katakana atau
berikan?” bunda menanyakan hal tersebut, Aisyah segera merapikan duduknya
menjadi tegap.
“Jelas dong bunda!
Aisyah tidak akan terima, dia kan sudah menyetujui bahkan menyanggupi nya
bagaimana dia malah menyalahkan Aisyah tentang apa yang ia dapatkan?” aisyah
menyahuti pertanyaan bundanya terlihat disana bunda tersenyum.
“Nah, Aisyah pinter, seperti
itu juga tentang takdir nak, mungkin Aisyah idak mengingat semuanya, tapi
Aisyah harus mengetahui jauh sebelum Aisyah terlahir didunia Aisyah sudah
menyetujui tentang apa yang akan terjadi dengan Aisyah dibumi ini, jadi Aisyah
tidak bisa menyalahkan tentang takdir yang sudah menimpa Aisyah” Jelas bunda
pada Aisyah.
“Aisyah mengerti kok
bunda” jawab Aisyah, bunda tersenyum menatapnya. “Tetapi, Aisyah hanya
menderita dengan semuanya bunda, Aisyah hanya memimpikan sebuah kesembuhan aja
kok” ungkap Aisyah.
“Aisyah mungkin ga bisa
memimpikan sebuah kesembuhan, tapi Aisyah bisa membuat kenyataan kepada sebuah
keikhlasan, percaya deh kalau Aisyah mengikhlaskan semuanya pasti perasaan
Aisyah akan jauh lebih tenang bahkan lebih tenang dari sebuah kesembuhan yang
Aisyah impikan”
“Benarkah? Jika seperti
itu, Aisyah akan belajar mengikhlaskannya” gumam Aisyah, bunda tersenyum
melihatnya.
“Nah itu baru anaknya
bunda, oh ya sepertinya hujannya hujan berhenti, Aisyah ingin bertemu Humairah
bukan? Sekarang Aisyah bisa menemuinya jangan lupa membawa payung yah” pesan
bunda, Aisyah mengangguk dan berpamitan pada bunda.
Aisyah kini paham, mungkin bundanya
memang benar seharusnya ia lebih mengikhlaskan semuanya agar merasa lebih
tenang bukan malah mengeluhkannya dan ingin menyalahkan takdir. Aisyah berjanji
ia akan belajar ikhlas untuk kali ini, ia akan mencoba mencintai rahmat Allah
SWT. Hujan…
Nama Pengarang: Uswatun
Hasanah.
Kelas: XI IPA1.
Judul: Ceritaku dan
hujan.