APA IBU BAHAGIA

APA IBU BAHAGIA
By : Nabilah Rahmah XI IPA 2


Ibu... kenapa kita jauh                          
Apalagi saat memikirkan ibu, Naura merasa kita malah lebih jauh, jauh, jauh sekali                                            Mungkin kita tidak bisa bersama hari ini atau besok tapi nanti insyaallah kita akan bersama lagi
“ Naura, kamu maju kedepan, lagi-lagi ulanganmu jelek, kamu ini nilainya selalu paling rendah di kelas. Apa kamu tidak belajar atau tidak mengerti?...” kata Pak Ahmad guru Biologiku.
Aku hanya terdiam tunduk mendengar perkataan Pak Ahmad, teman-temanku yang lain malah menertawakanku. Ku ambil kertas ulangan dan kembali ketempat duduk dengan menahan malu.
Ibu... apa ibu kecewa dengan Naura. Naura minta maaf. Naura akan giat belajar lagi. Insyaallah Naura akan jadi dokter seperti yang ibu inginkan.

v           

Kuberjalan sambil menendang botol minuman yang sudah remuk, kutendang kesana kemari karena hari ini aku kesal. Ibu pasti kecewa.“ Hah...” kutendang botol tadi lebih keras sampai-sampai entah hilang kemana.
Hari ini aku bertekad belajar lebih giat lagi. Minggu depan di mulai ujian kelulusan. Aku ingin masuk ke fakultas kedokteran seperti cita-cita ibu dan aku, menjadi dokter.
Setiap saat, di sekolah, di kelas, di rumah, dimana-mana buku tak pernah lepas dariku tak lupa juga aku shalat tahajud memohon pada Allah agar dipermudah dalam menggapai cita-citaku. Setiap hari aku sempatkan memohon do’a restu pada ibu supaya bisa menjawab ujian dengan lancar.
Ibu... Naura minta pada ibu do’akan Naura semoga berhasil, menjadi anak sholehah, membuat bangga ibu, sukses dan selamat dunia akhirat.
            Ujian pun dimulai, mulutku tidak bisa berhenti berkomat-kamit membaca do’a agar di permudah dalam menjawab. Beberapa hari ujian berlangsung tak terasa hari pengumuman nilai kelulusan di umumkan.
            Banyak orang berkerumunan di depan papan pengumuman, ku coba menerobos kerumunan itu sekuat tenaga. Ku lihat kertas nilai yang terpampang dari atas sampai bawah kenapa tidak ada namaku. Ku coba sekali lagi lebih teliti, tiba-tiba ada yang mendorongku sampai-sampai aku terdorong keluar kerumunan. “ Aaww...” aku terjatuh dan coba untuk bangkit berdiri. Mungkin aku tidak lulus, aku mengecewakan ibu lagi, aku tertunduk lesu dan pergi menjauh dari  kerumunan. Banyak orang yang bersorak gembira karena mereka lulus.
Ibu... maaf,  Naura mengecewakan ibu lagi, sekali lagi Naura minta maaf.

v      

Aku hanya tertunduk lesu di bangku taman belakang sekolah. Suara bising murid lain yang senang karena kelulusan mereka membuatku merasa bersalah pada ibu. Ini mungkin kehendak Allah aku harus menerimanya dengan ikhlas.
            “ Ibu... maafkan Naura... maaf ibu... maaf...” air mataku mulai menetes. Dalam hening kesedihan, terdengar suara perempuan memanggilku. “ Naura... Naura....” sahut perempuan itu, dari jauh aku tidak mengenalnya mungkin karena aku menangis jadi samar-samar bagiku. Saaat dia mendekatiku, ternyata itu Rahmah teman sebangkuku.
            “ Naura... kamu kenapa? Kamu menangis karena terharu ya..., aku juga aku tidak menyangka karena aku lulus.” katanya dengan riang gembira.
            Aku bingung, aku tidak mengerti apa yang di katakan Rahmah. “ Maksudnya apa? Aku tidak lulus Rahmah... mungkin ini sudah kehendak Allah.”  kataku dengan senyuman walaupun hati ini sedih.
            Rahmah terdiam lalu tertawa
            “ Hahaha.... tidak lulus... kamu lulus Naura, coba lihat baik-baik papan pengumuman- nya kalau bisa pakai kaca pembesar.” katanya dengan semangat. Aku terkejut dan langsung mengusap air mata. Kutarik Rahmah dan berlari menuju papan pengumuman. Sesampainya di sana, aku terdiam cukup lama, aku tidak percaya.
            “ Aku... aku... aku urutan ke-102 dari 295 siswa kelas 3...” aku terpaku tidak percaya. “ Benarkan kataku, makanya kamu lihat dengan teliti, aku saja urutan ke-124. Selamat ya... kamu berubah sekarang menjadi lebih baik, pasti ibumu bangga. Alhamdulillah...”             Kami berdua tertawa riang “ Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah.” ucap syukur tak henti-hentinya ku ucap.
Ibu... apa ibu bahagia. Naura senang sekali. Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah, terima kasih ibu.
v      
     
            Kertas ijazah dan segala yang di butuhkan untuk pendaftaran masuk kuliah sudah ku persiapkan dengan teliti. Ku coba mendaftar ke banyak fakultas kedokteran. Disana disini tidak ada yang lulus. Aku terus berusaha lebih giat lagi, shalat tahajud memohon pada Allah agar bisa masuk ke fakultas kedokteran dan meminta do’a restu pada ibu setiap harinya.
            Pilihanku tinggal satu universitas lagi. Bismillahirrahmanirrahim, ku coba mendaftar dan melaksanakan ujian masuk universitas. Hari-hari berlalu, tidak ada telepon pemberitahuan. Aku mulai pasrah menyerahkan semuanya pada Allah.
            Jam 24.10 aku terbangun dari tidur karena handphoneku berdering.
            “ Triing... triing...
            “ Assalamu’alaikum...” dengan rasa kantuk yang sangat ku coba mengangkatnya.
            “ Wa’alaikum salam, apakah ini dengan Asyifa Naura?”  kata seseorang dari seberang telepon itu.
            “ Ya... saya sendiri, ini siapa?” jawabku penasaran, kenapa malam-malam begini ada yang menelepon ada urusan apa, pikiranku mulai macam-macam.       
            “ Selamat kamu di terima di Universitas kami, sekali lagi selamat ya...” jawabnya.
            Mendengar jawabannya tadi aku terkejut. “ Alhamdulillah..... terima kasih... terima kasih banyak.... assalamu’alaikum.”
            “ Wa’alaikum salam.”
            Aku bersorak gembira dan sujud syukur atas nikmat yang di berikan Allah.
Ibu... Naura diterima di fakultas kedokteran. Tinggal beberapa langkah lagi Naura akan jadi seorang dokter. Apa ibu bahagia.
            Hari-hari berlalu, bulan berganti tahun tidak terasa aku akan wisuda dan menjadi seorang dokter. Ini semua berkat do’a ibu yang senantiasa selalu menemani Naura.
            Pada hari wisuda.
            “Assalamu’alaikum, bapak di sini sangat bangga pada kalian, semuanya 100 % lulus, sekali lagi selamat atas kelulusan kalian.” sambutan dari salah satu dosen kami.
            Aku deg-degan, jantungku tak karuan. Aku dulu anak yang tidak bisa apa-apa sekarang menjadi lulusan fakultas kedokteran. Alhamdulillah terima kasih Ya Allah, terima kasih ibu.
Ibu... Naura sudah wisuda, sekarang Naura sudah lulus dari fakultas kedokteran. Apa ibu bangga. Apa ibu bahagia. Naura di sini sangat bahagia. Ahamdulillah.

v      
            “ Dok... dok... tolong pasien kamar 03 Mawar mengalami kejang-kejang.”  kata salah satu perawat.
            “ Baik, kita kesana”
            Alhamdulillah, sudah lebih satu tahun aku menjadi dokter di salah satu Rumah Sakit swasta . Hari-hariku sangatlah sibuk harus siap kalau ada panggilan, pergi pagi pulang malam bahkan pulang pagi. Sekarang cita-citaku jadi dokter tercapai. Aku sangat bahagia. Tapi dalam kebahagiaan ini, ada sesuatu yang mengganjal seperti ada yang hilang dalam kehidupanku.
            “ Dok... tolong ibu saya, badannya panas saya takut ibu sakit parah.” kata gadis cantik dengan kerudung warna biru, baju garis-garis putih biru tua dan rok hitam polos yang tiba-tiba menghampiriku.
            “ Baiklah mari ikut saya”
            Setelah selesai memeriksa, aku tersenyum melihat gadis itu, dia sangat khawatir pada ibunya. “ Ibu jangan terlalu keras bekerja nanti ibu sakit lagi. Nanti Aya sedih melihat ibu seperti ini . Kalau ibu sehat Aya sangat senang. Aya sayang ibu...” kata-kata gadis itu tiba-tiba menusuk hatiku.
            Bayang-bayang kata itu mengingatkanku “ Ibu... apa ibu bahagia, Naura senang sekali. Naura lulus, terima kasih ibu....” kata-kata itu terus terbayang dalam pikiranku.
            “ IBU...” aku langsung bergegas berlari keluar rumah sakit.
Ibu.... sekarang Naura sudah sukses dan menjadi dokter seperti yang ibu inginkan                  Apakah ibu bangga atau malah kecewa pada Naura

v      
            “ Pak beli rangkaian bunga ini berapa?”  tanyaku pada penjual bunga di pinggir jalan.
            “ Itu Rp.100.000, dek...”
            “ Ini uangnya Pak, makasih.” sambil mengulurkan uang Rp.100.000 ku ambil bunga yang sudah terangkai rapi dengan pita pink besar. Ku pegang erat rangkaian bunga dan mulai meneteskan air mata.
            Sesampainya di suatu tempat yang lumayan sepi dan lama tidak ku kunjungi, ku masuk ke dalam dan tepat pada tempat yang ku cari. Tempat yang dulu selalu ku datangi setiap hari tapi akhir-akhir ini hanya bisa sekali seminggu sekali sebulan bahkan sekali setahun.
            Air mataku tidak bisa tertahan lagi.
            “ Assalamu’alaikum... apa kabar bu... sudah lama kita tidak berjumpa. Maaf Naura baru hari ini bisa kesini  Naura rindu pada ibu, rindu sekali....” air mataku mulai menetes dengan derasnya.
            Kutaruh rangkaian bunga tadi di atas makam ibu dan mengambil yasin di tasku.
            “ Rangkaian bunga dan bacaan do’a ini saja yang bisa Naura berikan pada ibu. Semoga ibu tenang dan berada disisi orang-orang  yang beriman. Aamiin.” ku bacakan surah Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, surah Yasin dan bacaan lainnya.
            Ibu ku sudah meninggal saat umurku 14 tahun , aku memang suka berbicara dengan ibu walau ibu sudah meninggal, sekarang tak terasa aku sudah besar.
            “ Bu... kini Naura sudah jadi dokter seperti yang ibu inginkan, ibu senangkan...” ku coba tersenyum walau berat rasanya.
            Lumayan lama aku di sana, tak terasa hari mulai sore.
            “ Bu... Naura pamit dulu... semoga Naura jadi anak yang sholehah, yang bisa membawa kalian ke surga. Aamiin. Naura akan selalu berdo’a untuk ibu. Assalamu’alaikum.” ku berdiri dan meninggalkan makam ibu dengan berat hati. Naura sayang ibu.
Ibu saat Naura berada di dekat ibu hati Naura tenang walaupun tak merasakan dekapan kasih sayang ibu secara langsung, tapi Naura bahagia. Naura harap ibu juga bahagia di sana. Naura selalu berdo’a supaya ibu teanang di sana dan menjadi ahli surga-Nya Allah. Aamiin.