AL-QUR’AN PEMBERIAN AYAH

AL-QUR’AN PEMBERIAN AYAH
 KARANGAN:AULADINA SHALIHAH


                Disebuah Desa terdapat keluarga yang terdiri dari seorang lelaki tua yang biasa dipanggil Pak Rudi oleh warga sekitar dan seorang anak perempuannya cantik yang baru kelas 1 SMP yang biasa dipanggil Raudah oleh teman-temannya.Istri Pak Rudi sudah meninggal 5 Tahun yang lalu karena mengidap penyakit asma,sehingga sekarang Pak Rudi hanya tinggal bersama anak perempuannya.
            Pak Rudi adalah seorang petani yang bekerja diladang milik seorang juragan didesanya.Ia dikenal juragannya sebagai petani yang rajin dalam bekerja.Sedangkan Raudah adalah seorang siswi yang baik dan berprestasi disekolahnya.Namun sayang kehidupan mereka sangatlah memprihatinkan karena untuk memenuhi kehidupan sehari-hari saja tidak cukup apalagi ingin membeli baju sekolah Raudah yang baru.
            Suatu hari disekolah saat Raudah masuk kekelasnya,ia langsung dicemooh oleh temannya yang bernama Mita.
“Eh anak miskin datang tuh,udah baju kotor,udik lagi”,(Dengan wajah sewot Mita mengolok-olok Raudah kepada teman-temannya).
Raudah hanya tertunduk dan tidak berkata apa-apa dengan perasaan sedih yang ia rasakan.Sehingga pada saat pulang kerumahnya ia langsung mencari ayahnya untuk mengadukan yang telah terjadi pada dirinya.Akan tetapi Raudah tidak menemukan Ayahnya di rumah karena ayahnya masih berada di ladang.
            Raudah hanya bisa menangis dengan tas sekolahnya yang masih berada dipunggungnya.Tidak lama kemudian,terdengar ada seseorang yang mengetuk pintu rumahnya.Raudah tersentak,dia berharap orang yang mengetuk pintu itu adalah ayahnya.Raudah bergegas untuk membukakan pintu,dan benar saja dugaan Raudah bahwa ayahnya telah datang dari ladang.
            Raudah langsung memeluk ayahnya dengan menangis tersedu-sedu,ayahnya kebingungan dengan sikap Raudah.Lantas ayahnya bertanya kepada Raudah:
“Kenapa kamu menangis nak ?”
“Aku sedih pak,temanku Mita selalu mencemooh aku,katanya aku miskin,udik dan bajuku kotor”.
“Ya Allah,kamu yang sabar ya nak dengan cemoohan temanmu.Nanti kalau ada rezeki Ayah belikan kamu baju sekolah yang baru”.Ayahnya berusaha menenangkan Raudah dengan mengatakan seperti itu.Padahal ia tidak tau uang hasil dari mana untuk membelikan Raudah baju,karena upah yang ia dapatkan dari bekerja sebagai petani hanya cukup untuk makan sehari-hari.
“Beneran yah,Ayah akan membelikan aku baju baru”?
“Iya nak’!
“Asyiiiik aku punya baju baru,makasih ya Ayah”.Dengan wajah senang dan bersemangat Raudah berlari masuk kerumah untuk melepas tas dan baju sekolahnya.
            Pada malam hari,Raudah dan ayahnya sedang makan malam dengan lauk seadanya,ditemani oleh lampu yag redup.Tetapi kebersamaannya itu membuat mereka merasa senang dan tidak mengeluh dengan makanan yang mereka makan.
            Setelah selesai makan,Raudah belajar dengan seksama untuk menghadapi ulangan besok.Tiba-tiba ia mendengar suara ayahnya yang sedang berdo’a setelah selesai sholat.
“Ya Allah,berilah Hamba-Mu ini kesabaran untuk menjalani kehidupan ini.Berilah Hamba rezeki yang cukup agar Hamba bisa membelikan baju baru untuk anak Hamba.Amiiiiin…..
            Raudah meneteskan air mata setelah mendengar do’a dari ayahnya ,dan ia sadar dan mengerti bahwa ayahnya tidak memiliki rezeki yang cukup.Sehingga ia tidak memeksa dan meminta kepada ayahnya untuk membelikan baju baru untuknya.
            Raudah menghampiri kearah ayahnya dan mengatakan:
“Ayah aku mengerti dengan keadaan kita dan aku gak minta ayah untuk membelikan aku baju baru.Ayah lagi gak punya uang kan”?
“Iya nak,ayah gak punya uang untuk membelikan kamu baju baru,maafkan ayah ya nak”?Jawab Pak Rudi dengan air matanya yang menetes dan memeluk Raudah.
“Iya yah,tidak apa-apa”.
            Pada pagi hari,setelah melepas kepergian Raudah kesekolah.Pak Rudi pergi keladang untuk bekerja dengan membawa satu karung ditangannya.
            Salah satu petani di ladang itu merasa benci kepada Pak Rudi karena ia adalah petani yang rajin sehingga ia disukai oleh juragannya.Dan petani itu ingin berbuat jahat kepada Pak Rudi.
            Pak Rudi yang waktu itu sedang mencuci tangan dan hampir mau pulang.Tiba-tiba Pak Rudi dipanggil oleh sang juragan ladang itu.
“Rudi,sini kamu”!!
“Ada apa juragan”?Jawab Pak Rudi.
“Dasar maling,kamu saya berhentikan bekerja disini,berani-beraninya kamu mencuri jagung di ladang ini”!
“Jangan berhentikan saya Pak,saya tidak mencuri pak,dan saya tidak ada niatan sama sekali untuk mencuri apalagi mencuri jagung”.
“Alaaah,kamu mengaku saja Rud dan kami ada buktinya”.Sahut salah seorang petani dengan menyodorkan karung milik Pak Rudi yang berisi beberapa buah jagung.
Pak rudi kaget ,karena didalam karungnya ada beberapa buah jagung,padahal ia sama sekali tidak mencurinya.
            Akhirnya,para petani yang sudah marah dengan Pak Rudi itu memukuli Pak Rudi hingga bebak belur.
“Ampun Pak…Saya tidak bersalah”.Teriak Pak Rudi.Namun para petani itu tidak menghiraukan Pak Rudi,mereka tetap saja memukuli Pak Rudi.
            Ketika para petani itu sudah puas memukuli Pak Rudi,mereka pergi meninggalkan Pak Rudi sendirian yang lemah tidak berdaya.Lalu Pak rudi pulang menuju rumah dengan jalan sempoyongan dan menahan rasa sakitnya.
            Raudah yang waktu itu sedang mencuci piring dikagetkan dengan suara ayahnya yang memanggil meminta tolong kepadanya.
“Dah…Raudah…Tolong Ayah”!!
Raudah berlari menghampiri ayahnya dan membawanya ketempat tidur.
“Ayah kenapa seperti ini”??.Tanya Raudah kepada ayahnya.
“Ayah baru saja dipukuli para petani,karena ayah dituduh mencuri buah jagung,padahal ayah sama sekali tidak mencurinya”.
Astaghfirullah…siapa yang tega melakukannya yah ?”
            “Ayah tidak tau nak,mungkin ini cobaan dari Allah untuk kita”.Jawab Pak Rudi.
“Ayah yang sabar,ya”.Kata Raudah kepada ayahnya.
            Sudah beberapa hari Pak Rudi sakit-sakitan,bahkan ia terkena sesak dada akibat dari pukulan para petani yang dilontarkan ke dada Pak Rudi.
            Pada suatu hari,Pak Rudi merasakan kesakitan yang teramat sakit,dia meminta tolong Raudah untuk membawanya ke Puskesmas.Namun belum sampai keluar dari pintu rumah.Tiba-tiba Pak Rudi terjatuh dengan nafas yang terhela-hela.
“Ayah kenapa yah,Ayah masih kuatkan “?.Tanya Raudah kepada ayahnya.
“Sepertinya Ayah tidak kuat lagi nak”!!
“Raudah,sekiranya ayah tidak ada lagi,ayah Cuma bisa memberikan warisan kepada kamu berupa Al-Qur’an yang ada didalam lemari.Tolong kamu baca setiap hari dan ajarkanlah kepada orang lain.Kamu harus jadi anak yang baik,pintar dan berguna untuk orang lain”.Pesan Pak Rudi kepada Raudah.
            “Iya yah,Raudah berjanji akan menjadi seseorang seperti yang ayah inginkan”.
Tiba-tiba Pak Rudi mengucapkan kata”Lailahaillallah” yang terakhir kalinya,dan tibalah ajal menjemputnya.
            “Ayaaahh!!!”.Teriak Raudah dengan wajah menangis.
            “Kenapa ayah begitu cepat meninggalkan aku,aku masih ingin bersama ayah”???.Dengan muka menangis Raudah mengatakannya.
            Tiba waktunya jenazah Pak Rudi dikebumikan oleh warga setempat.Kini Raudah menjadi anak yatim piatu dan ia harus bekerja sendiri untuk memenuhi kebutuhannya.
            10 tahun telah Raudah lewati tanpa ayahnya lagi,hari demi hari pun ia lalui,untuk makan sehari-hari ia memperolehnya dari hasil bekerjanya sebagai pembantu disuatu warung makan didesanya.Dan untuk biaya sekolah,ia mendapat beasiswa samapi ia kuliah sehingga ia tetap bisa mendapatkan pendidikan.
            Ditengah-tengah kesibukannya dalam bekerja dan sekolah,Raudah tidak pernah melewatkan untuk membaca Al-Qur’an.Sesuai dengan pesan ayahnya kepada Raudah sebelum meninggal.
            Suatu hari ketika Raudah pulang dari tempat ia bekerja.Raudah dihampiri oleh seorang ibu dengan anaknya yang masih kecil.     
            “Raudah,ibu sering mendengar kamu membaca Al-qur’an dan ibu dengar bacaan kamu itu bagus.Maukah kamu mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak didesa ini dan termasuk anak saya”??.Pinta ibu itu kepada Raudah.
Raudah sempat berfikir dengan tawaran tersebut.Dalam hati Raudah berkata:
            “Kalau aku mengajar mengaji,berarti aku memberikan pengetahuan tentang kalam Allah,tetapi untuk hal ini aku tidak mau dibayar,aku ikhlas melakukannya”.
            Akhirnya dengan tidak berfikir panjang lagi,Raudah langsung menerima tawaran itu dengan senang hati.
            “Iya bu,saya mau mengajar Al-Qur’an kepada anak-anak didesa ini”.Jawab Raudah.
            Matahari sudah mulai menenggelamkan sinarnya,waktu azan maghrib pun telah tiba.Terlihat beberapa orang yang berdiri telah siap untuk melaksanakan Sholat Maghrib berjamaah dan Raudah adalah salah satunya.
            Ketika Sholat Maghrib berjamaah telah selesai,tibalah waktunya Raudah untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak yang ada didesanya.Ada 2-3 orang tua yang mengantarkan anaknya untuk belajar Al-Qur’an.Raudah mengajarkannya dengan seksama dan terlihat penuh keikhlasan.
            Lama-kelamaan,anak-anak yang belajar Al-Qur’an semakin banyak dan Raudah pun merasa lebih senang.
            Pada suatu hari,didesa Raudah sedang kedatangan seorang pemuda yang tampan dan sholeh.Pemuda tersebut mendapat undangan dari warga desa untuk memberikan ceramah dimasjid.
            Raudah dan temannya terlihat duduk ditengah-tengah jamaah yang sedang mendengarkan ceramah.Namun tanpa disadari olehnya,pemuda yang memberikan ceramah itu sesekali melihat kearah Raudah.Ternyata pemuda itu memiliki rasa suka kepada Raudah.Dan disisi lain Raudah pun merasakan hal yang sama kepada pemuda itu.
            Ketika ceramah sudah berakhir,tibalah Raudah dan temannya untuk pulang.Namun ditengah kepulangannya itu,langkahnya terhenti karena dipanggil oleh seorang pemuda yang ternyata adalah orang yang tadi memberikan ceramah.
            “Assalamualaikum”??
            “Wa’alaikumsalam”!!.Jawab Raudah.
            “Eee..apakah aku boleh mengetahui namamu ??”.Pinta pemuda itu.
            “Iya boleh,nama aku Raudah,kalau kamu”?.Jawab Raudah dengan muka tertunduk malu.
            “Nama aku Rahmat”!!!
            Raudah yang ditemani temannya itu merasa gugup karena baru pertama kali ini dia berhadapan dengan seorang pemuda yang ia sukai.
            Dan kagetnya,pemuda itu mengatakan kepada Raudah bahwa ia suka kepadanya dan ia berniat untuk melamarnya.
            Tanpa panjang lebar,Raudah yang pada saat itu merasakan hal yang sama menganggukkan kepalanya.Teman Raudah pun sangat menyetujui hal tersebut.Akhiranya kedua insan tersebut memutuskan untuk menikah.
            Hari pernikahan pun dilaksanakan dengan penuh kekhitmatan.Dan betapa bahagianya kedua insan tersebut karene telah diperjodohkan oleh Allah Swt untuk menjadi keluarga yang berbingkaikan islam.
            1 Tahun kemudian,mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang tampan.Mereka memberi nama Siddiq.Maka semakin lengkap lah kebahagiaan yang mereka rasakan.
            Rahmat yang bekerja sebagai guru disalah satu sekolah juga sebagai penceramah dan disisi lain karena Raudah adalah orang yang berprestasi sehingga saat ini ia menjadi seorang Dosen disebuah Universitas,namun ia tetap tidak pernah untuk melewatkan membaca Al-Qur’an dan mengajarkannya kepada orang lain.Dari penghasilan bekerja itulah,mereka dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarga kecil mereka.
            Pada suatu hari,disaat keluarga kecil itu sedang berjalan-jalan disuatu taman kota.Mereka dihampiri oleh seorang lelaki tua yang duduk dikursi roda karena kakinya lumpuh.Dan dibelakangnya terlihat seorang perempuan seumuran Raudah yang sedang mendorong kursi roda itu.
            Ternyata lelaki tua itu adalah orang yang dulu berbuat jahat dan memfitnah Pak Rudi ketika masih hidup.Dan perempuan itu adalah Mita teman Raudah ketika masih SMP yang sering mengcemoohnya.
            Lelaki tua itu menceritakan perbuatan jahatnya kepada raudah,dan ia menangis menyesali perbuatannya.Ia meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada Raudah atas kesalahannya dimasa lampau.Dan sekarang ia telah mendapatkan balasan dari Allah Swt atas perbuatannya yang menjadikan kakinya itu lumpuh.Tidak berbeda dengan Mita,ia juga meminta maaf atas semuanya kepada Raudah yang juga sering mencemoohnya.
            Betapa terkejutnya Raudah mendengar apa yang disampaikan lelaki tua itu dan ia tidak menyagka bahwa lelaki tua itu tega melakukannya.Tetapi,dengan kerendahan hati Raudah,Ia menerima permohonan maaf dari kedua orang tersebut walaupun hatinya merasa sangat sedih.
            Setelah semuanya berakhir dan lika-liku hidup Raudah sudah ia alami,ia pun merasakan kebahagiaan bersama dengan keluarga kecilnya.Banyak sekali rezeki yang Raudah dapatkan sehingga ia bisa mendirikan sebuah Taman Pendidikan Al-Qur’an untuk anak-anak belajar Al.Qur’an.                           
Hikmah yang dapat diambil dari cerita tersebut:
1.      Kita harus bersabar dan jangan mengeluh dalam menjalani kehidupan ini,walaupun banyak cobaan dan masalah yang kita hadapi.Karena kesabaran itu akan berbuah kepada kebahagiaan.
2.      Jangan memaksakan kehendak kita untuk menginginkan sesuatu karena kita harus faham dengan keadaan kita apakah mampu atau tidak.
3.      Sayangi dan hormatilah orang tuamu selagi masih ada dan bahagiakanlah mereka.
4.      Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan,tetapi balaslah dengan kebaikan.
5.      Jangan melakukan perbuatan tercela seperti mencemooh dan memfitnah orang lain karena balasan dari Allah swt itu pasti ada.
6.      Pelajarilah Al-Qur’an dengan seabaik-baiknya dan kalau bisa kita ajarkan kepada orang lain karena hal itu akan menjadi amal jariah.
7.      Allah telah menciptakan manusia secara berpasangan termasuk urusan jodoh.
8.      Perbanyaklah bersabar,berbuat kebaikan karena dengan jalan itu kita bisa meraih jalan ke Syurga-Nya Allah Swt.
9.      Maafkanlah orang yang telah melakukan perbuatan jahat kepada kita.
10.  Bekerjalah untuk mendapatrkan rezeki yang halal.Karena rezeki hanya mau dihampiri oleh orang yang berdiri dikakinya sendiri.

11.  Jadilah wanita sholehah yang akan membawa keluarganya kepada SYURGA ALLAH SWT.